SEJARAH
sejara mengenai tentang Penyakit Parkinson ialah suatu penyakit neurodegeneratif yang bersifat kronis progresif, dan merupakan penyakit terbanyak kedua setelah demensia Alzheimer. Penyakit ini memiliki dimensi gejala yang sangat luas sehingga baik langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas hidup penderita maupun keluarga. Pertama kali ditemukan oleh seorang dokter inggris yang bernama James Parkinson pada tahun 1887. Penyakit ini merupakan suatu kondisi ketika seseorang mengalami ganguan pergerakan.
sejara mengenai tentang Penyakit Parkinson ialah suatu penyakit neurodegeneratif yang bersifat kronis progresif, dan merupakan penyakit terbanyak kedua setelah demensia Alzheimer. Penyakit ini memiliki dimensi gejala yang sangat luas sehingga baik langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas hidup penderita maupun keluarga. Pertama kali ditemukan oleh seorang dokter inggris yang bernama James Parkinson pada tahun 1887. Penyakit ini merupakan suatu kondisi ketika seseorang mengalami ganguan pergerakan.
Tanda-tanda khas yang ditemukan pada
penderita diantaranya; resting tremor, rigiditas, bradikinesia, dan
instabilitas postural. Tanda-tanda motorik tersebut merupakan akibat dari
degenerasi neuron dopaminergik pada sistem nigrostriatal. Namun, derajat
keparahan defisit motorik tersebut beragam. Tanda-tanda motorik pasien sering
disertai depresi, disfungsi kognitif, gangguan tidur, dan disfungsi autonom.8
A. Definisi
Parkinson’s
Disease (Penyakit Parkinson) merupakan suatu penyakit karena
gangguan pada ganglia basalis akibat penurunan atau tidak adanya pengiriman
dopamine dari substansia nigra ke globus palidus/neostriatum (striatal
dopamine deficiency).10

Parkinson’s
Disease adalah penyakit neurodegeneratif progresif yang berkaitan erat
dengan usia. Penyakit ini mempunyai karakteristik terjadinya degenerasi dari
neuron dopaminergik substansia nigra pars kompakta, ditambah dengan adanya
inklusi intraplasma yang terdiri dari protein yang disebut dengan Lewy Bodies. Neurodegeneratif pada
parkinson juga terjadi pada daerah otak lain termasuk lokus ceruleus, raphe
nuklei, nukleus basalis Meynert, hipotalamus, korteks cerebri, motor nukelus
dari saraf kranial, serta sistem saraf otonom.
B.
Klasifikasi
Parkinsonism dapat dibagi atas 3 bagian
besar, yaitu :
a.
Primer
atau idiopatik : Penyakit Parkinson, Juvenile Parkinsonism
b.
Sekunder
atau simtomatik : berhubungan dengan infeksi, obat, toksin, penyakit vaskuler,
trauma, dan tumor otak.
c.
Parkinson plus (disebut juga sebagai paraparkinson) : progressive supranuclear palsy, degenerasi kortikobasal
ganglionik, kelainan herediter seperti penyakit Wilson, penyakit Huntington,
dan lain-lain.
C.
Etiologi
Etiologi Parkinson primer masih
belum diketahui. Terdapat beberapa dugaan, di antaranya ialah; infeksi oleh
virus yang non-konvensional (belum diketahui), reaksi abnormal terhadap virus
yang sudah umum, pemaparan terhadap zat toksik yang belum diketahui, serta terjadinya
penuaan yang prematur atau dipercepat.
Parkinson disebabkan oleh rusaknya
sel-sel otak, tepatnya di substansi nigra. Suatu kelompok sel yang mengatur
gerakan-gerakan yang tidak dikehendaki (involuntary). Akibatnya,
penderita tidak bisa mengatur/menahan gerakan-gerakan yang tidak disadarinya.
Mekanisme bagaimana kerusakan itu terjadi belum jelas benar. Beberapa hal yang
diduga bisa menyebabkan parkinson adalah sebagai berikut:
1. Usia
Insiden meningkat
dari 10 per 10.000 penduduk pada usia 50 sampai 200 dari 10.000 penduduk pada
usia 80 tahun. Hal ini berkaitan dengan reaksi mikrogilial yang mempengaruhi
kerusakan neuronal, terutama pada substansia nigra.
2. Genetik
Penelitian
menunjukkan adanya mutasi genetik yang berperan pada Parkinson’s Disease. Yaitu mutasi pada gen sinuklein pada lengan
panjang kromosom 4 (PARK1) pada pasien dengan Parkinsonism autosomal dominan.
Pada pasien dengan autosomal resesif, ditemukan delesi dan mutasi point pada
gen parkin (PARK2) di kromosom. Selain itu juga ditemukan adanya disfungsi
mitokondria.
3. Faktor Lingkungan
a. Xenobiotik
Berhubungan
erat dengan paparan pestisida yang dapat menimbulkan kerusakan mitokondria.
b. Pekerjaan
Lebih banyak pada orang dengan
paparan metal yang lebih tinggi dan lama.
c. Infeksi
Paparan
virus influenza intra-utero diduga turut menjadi faktor predesposisi Parkinson’s Disease melalui kerusakan
substansia nigra.
d. Diet
Konsumsi
lemak dan kalori tinggi meningkatkan stress oksidatif, salah satu mekanisme
kerusakan neuronal pada Parkinson’s
Disease.
e. Trauma kepala
Cedera
kranio serebral bisa menyebabkan Parkinson’s
Disease, meski mekanismenya masih belum jelas benar.
f. Stres dan depresi
Beberapa
penelitian menunjukkan depresi dapat mendahului gejala motorik. Depresi dan
stres dihubungkan dengan Parkinson’s
Disease karena pada stres dan depresi terjadi peningkatan turnover katekolamin yang memacu stres
oksidatif.
D.
Patofisiologi
Dua
hipotesis yang disebut juga sebagai mekanisme degenerasi neuronal pada penyakit
Parkinson ialah: hipotesis radikal bebas dan hipotesis neurotoksin.
Diduga
bahwa oksidasi enzimatik dari dopamine dapat merusak neuron nigrotriatal,
karena proses ini menghasilkan hidrogren peroksid dan radikal oksi lainnya.
Walaupun ada mekanisme pelindung untuk mencegah kerusakan dari stress
oksidatif, namun pada usia lanjut mungkin mekanisme ini gagal.
2. Hipotesis
neurotoksin
Diduga satu atau
lebih macam zat neurotoksik berpera pada proses neurodegenerasi pada Parkinson.
Pandangan saat ini menekankan pentingnya ganglia basal dalam menyusun rencana neurofisiologi yang dibutuhkan dalam melakukan gerakan, dan bagian yang diperankan oleh serebelum ialah mengevaluasi informasi yang didapat sebagai umpan balik mengenai pelaksanaan gerakan. Ganglia basal tugas primernya adalah mengumpulkan program untuk gerakan, sedangkan serebelum memonitor dan melakukan pembetulan kesalahan yang terjadi seaktu program gerakan diimplementasikan. Salah satu gambaran dari gangguan ekstrapiramidal adalah gerakan involunter.
Pandangan saat ini menekankan pentingnya ganglia basal dalam menyusun rencana neurofisiologi yang dibutuhkan dalam melakukan gerakan, dan bagian yang diperankan oleh serebelum ialah mengevaluasi informasi yang didapat sebagai umpan balik mengenai pelaksanaan gerakan. Ganglia basal tugas primernya adalah mengumpulkan program untuk gerakan, sedangkan serebelum memonitor dan melakukan pembetulan kesalahan yang terjadi seaktu program gerakan diimplementasikan. Salah satu gambaran dari gangguan ekstrapiramidal adalah gerakan involunter.
Dasar patologinya mencakup lesi di ganglia basalis (kaudatus, putamen, palidum, nukleus subtalamus) dan batang otak (substansia nigra, nukleus rubra, lokus seruleus). Secara sederhana , penyakit atau kelainan sistem motorik dapat dibagi sebagai berikut:
1) Piramidal:
kelumpuhan disertai reflek tendon yang meningkat dan reflek superfisial yang
abnormal
2) Ekstrapiramidal:
didomonasi oleh adanya gerakan-gerakan involunter
3) Serebelar:
ataksia alaupun sensasi propioseptif normal sering disertai nistagmus
4) Neuromuskuler:
kelumpuhan sering disertai atrofi otot dan reflek tendon yang menurun
Patofisiologi depresi pada penyakit Parkinson sampai saat ini belum diketahui pasti. Namun teoritis diduga hal ini berhubungan dengan defisiensi serotonin, dopamin dan noradrenalin.
Pada penyakit Parkinson
terjadi degenerasi sel-sel neuron yang meliputi berbagai inti subkortikal
termasuk di antaranya substansia nigra, area ventral tegmental, nukleus
basalis, hipotalamus, pedunkulus pontin, nukleus raphe dorsal, locus cereleus,
nucleus central pontine dan ganglia otonomik. Beratnya kerusakan struktur ini
bervariasi.
Penggabungan
disfungsi semua unsur yang tersebut di atas merupakan gambaran dari sindrom
klasik depresi.
Diagram Patofisiologi Depresi pada
Penyakit Parkinson
Kehilangan
neuron batang otak akibat penyakit Parkinson
↓
Deplesi
biokimiawi korteksdan ganglia basalis
↓
Penurunan
reward mediation, ketergantungan
terhadap
lingkungan, dan respons
terhadap
stres yang tidak adekuat
↓
Apatis,
rasa tidak berharga, rasa tidak berguna
↓
Tidak
ada harapan, putus asa
E.
Gejala
Klinis
Gejala klinis yang
sering timbul adalah :
1. Gejala Motorik
a. Tremor/bergetar
Gejala
Parkinson’s Disease sering luput dari
pandangan awam, dan dianggap sebagai suatu hal yang lumrah terjadi pada orang
tua. Salah satu ciri khas dari Parkinson’s
Disease adalah tangan tremor (bergetar) jika sedang beristirahat.
Namun, jika orang itu diminta melakukan sesuatu, getaran tersebut tidak
terlihat lagi. Itu yang disebut resting tremor, yang hilang juga sewaktu
tidur.
b. Rigiditas/kekakuan
Tanda
yang lain adalah kekakuan (rigiditas).Adanya hipertoni pada otot fleksor
ekstensor dan hipertoni seluruh gerakan, hal ini oleh karena meningkatnya
aktifitas motorneuron alfa, adanya fenomena roda gigi (cogwheel phenomenon).
c. Akinesia/Bradikinesia
Kedua
gejala di atas biasanya masih kurang mendapat perhatian sehingga tanda
akinesia/bradikinesia muncul. Gerakan volunteer menjadi lambat sehingga
berkurangnya gerak asosiatif, misalnya sulit untuk bangun dari kursi, sulit
memulai berjalan, lambat mengambil suatu obyek, bila berbicara gerak lidah dan
bibir menjadi lambat. Bradikinesia mengakibatkan berkurangnya ekspresi muka
serta mimik dan gerakan spontan yang berkurang, misalnya wajah seperti topeng,
kedipan mata berkurang, berkurangnya gerak menelan ludah sehingga ludah suka
keluar dari mulut.
d. Tiba-tiba berhenti atau ragu-ragu untuk melangkah
Gejala lain adalah freezing, yaitu berhenti di tempat
saat mau mulai melangkah, sedang berjalan, atau berputar balik; dan start
hesitation, yaitu ragu-ragu untuk mulai melangkah. Bisa juga terjadi sering
kencing, dan sembelit. Penderita menjadi lambat berpikir dan depresi.
e. Mikrografia
Tulisan tangan secara gradual menjadi kecil dan rapat, pada
beberapa kasus hal ini merupakan gejala dini.
f. Langkah dan
Gaya berjalan (sikap Parkinson)
Berjalan
dengan langkah kecil menggeser dan makin menjadi cepat (marche a petit pas),
stadium lanjut kepala difleksikan ke dada, bahu membengkok ke depan, punggung
melengkung bila berjalan.

(1) tubuh condong ke depan, (2) bahu abduksi, (3) siku fleksi
90˚, (4) pergelangan tangan ekstensi, (5) Hip dan lutut semifleksi.
g. Bicara Monoton
Hal ini karena bradikinesia dan rigiditas otot pernapasan,
pita suara, otot laring, sehingga bila berbicara atau mengucapkan kata-kata
yang monoton dengan volume suara halus ( suara bisikan ) yang lambat.10
h. Gangguan Behavioral
Lambat-laun
menjadi dependen ( tergantung kepada orang lain ), mudah takut, sikap kurang
tegas, depresi. Cara berpikir dan respon terhadap pertanyaan lambat (bradifrenia)
biasanya masih dapat memberikan jawaban yang betul, asal diberi waktu yang
cukup.
i. Gejala Lain
Kedua mata berkedip-kedip dengan gencar pada pengetukan
diatas pangkal hidungnya (tanda Myerson positif)
2. Gejala non motorik
a.
Disfungsi otonom
-
Keringat berlebihan, air ludah berlebihan,
gangguan sfingter terutama inkontinensia dan hipotensi ortostatik.
-
Kulit berminyak dan infeksi kulit seborrheic
-
Pengeluaran urin yang banyak
-
Gangguan seksual yang berubah fungsi, ditandai
dengan melemahnya hasrat seksual, perilaku, dan orgasme.
b. Gangguan suasana hati, penderita sering mengalami depresi
c. Ganguan kognitif, menanggapi rangsangan lambat
d. Gangguan tidur, penderita mengalami kesulitan tidur
(insomnia)
e. Gangguan sensasi, seperti :
-
kepekaan kontras visual lemah, pemikiran
mengenai ruang, pembedaan warna.
-
penderita sering mengalami pingsan, umumnya
disebabkan oleh hypotension ortostatik, suatu kegagalan sistemsaraf otonom
untuk melakukan penyesuaian tekanan darah sebagai jawaban atas perubahan posisi
badan - berkurangnya atau hilangnya kepekaan indra perasa bau (microsmia
atau anosmia).
Hal yang termasuk
dalam pemeriksaan koordinasi:
-
Lenggang
-
Bicara : berbicara spontan, pemahaman, mengulang,
menamai
-
Menulis : mikrografia
-
Percobaan apraksia : ketidakmampuan dalam melakukan
tindakan yang terampil: mengancing baju, menyisir rambut, dan mengikat tali
sepatu
-
Mimik wajah
-
Tes telunjuk : pasien merentangkan kedua lengannya ke
samping sambil menutup mata. Lalu mempertemukan jari-jarinya di tengah badan
-
Tes telunjuk-hidung : pasien menunjuk telunjuk
pemeriksa, lalu menunjuk hidungnya
-
Disdiadokokinesia : kemampuan melakukan gerakan yang
bergantian secara cepat dan teratur
-
Tes tumit-lutut : pasien berbaring dan kedua tungkai
diluruskan, lalu pasien menempatkan tumit pada lutut kaki yang lain.
F. Diagnosis
Untuk
menegakkan diagnosis, dapat melihat dari derajat berdasarkan kriteria Hoehn and
Yahr (1967), yaitu:
Stadium 1 : Gejala dan tanda pada satu sisi, terdapat
gejala yang ringan, terdapat gejala yang mengganggu tetapi belum menimbulkan
kecacatan, biasanya terdapat tremor pada satu anggota gerak.
Stadium 2 : Terdapat gejala bilateral, terdapat
kecacatan minimal, sikap/cara berjalan terganggu
Stadium 3 : Gerak tubuh nyata melambat, keseimbangan
mulai terganggu saat berjalan/berdiri, disfungsi umum sedang
Stadium 4 : Terdapat gejala yang berat, masih dapat
berjalan hanya untuk jarak tertentu, rigiditas dan bradikinesia, tidak mampu
berdiri sendiri, tremor dapat berkurang dibandingkan stadium sebelumnya
Stadium 5 : Stadium kakhetik (cachactic stage),
kecacatan total, tidak mampu berdiri dan berjalan walaupun dibantu.
Kriteria Hughes (1992) :
Possible :
didapatkan 1 dari gejala-gejala utama
Probable :
didapatkan 2 dari gejala-gejala utama
Definite :
didapatkan 3 dari gejala-gejala utama
Pemeriksaan
penunjang
-
EEG
Biasanya
terjadi perlambatan yang progresif
-
CT Scan kepala
Biasanya
terjadi atropi kortikal difus, sulkus-sulkus melebar
Tatalaksana Penyakit
Parkinson
Penyakit Parkinson merupakan
penyakit kronis yang membutuhkan penanganan secara holistik meliputi berbagai
bidang. Pada saat ini tidak ada terapi untuk menyembuhkan penyakit ini, tetapi
pengobatan dan operasi dapat mengatasi gejala yang timbul.
Pengobatan penyakit Parkinson bersifat
individual dan simtomatik, obat-obatan yang biasa diberikan adalah untuk
pengobatan penyakit atau menggantikan atau meniru dopamin yang akan memperbaiki
tremor, rigiditas, dan slowness.
Perawatan pada penderita penyakit
Parkinson bertujuan untuk memperlambat dan menghambat perkembangan dari
penyakit itu. Perawatan ini dapat dilakukan dengan pemberian obat dan terapi
fisik seperti terapi berjalan, terapi suara/berbicara dan pasien diharapkan
tetap melakukan kegiatan sehari-hari.16
1. Terapi
Obat-obatan
Beberapa obat yang
diberikan pada penderita penyakit Parkinson:
a. Antikolinergik
Benzotropine,
trihexypheni. Berguna untuk mengendalikan gejala dari Parkinson’s Disease. Untuk memperhalus pergerakan.
b. Levodopa
Levodopa merupakan
pengobatan utama untuk Parkinson’s
Disease. Di dalam otak levodopa dirubah menjadi dopamine. L-dopa akan
diubah menjadi dopamine pada neuron
dopaminergik oleh L-aromatik asam amino dekarboksilase (dopa dekarboksilase).
c. COMT inhibitors
Tapi karena efek
samping yang berlebihan seperti liver toksik, maka jarang digunakan. Jenis yang
sama, entacapone, tidak menimbulkan penurunan fungsi liver.
d. Agonis dopamin
Agonis dopamin
seperti bromokriptin (Parlodel), pergolid (Permax), pramipexol (Mirapex),
ropinirol, kabergolin, apomorfin dan lisurid dianggap cukup efektif untuk
mengobati gejala Parkinson.
e. MAO-B inhibitors
Selegiline
(Eldepryl), Rasagaline (Azilect). Inhibitor MAO diduga berguna pada Parkinson’s Disease karena neuotransmisi
dopamine dapat ditingkatkan dengan mencegah perusakannya.
f. Amantadine
Berguna untuk
perawatan akinesia, dyskinesia, kekakuan, gemetaran.
g. Inhibitor dopa-dekarboksilasi
dan levodopa
Untuk mencegah
agar levodopa tidak diubah menjadi dopamin di luar otak, maka levodopa
dikombinasikan dengan inhibitor enzim dopa dekarboksilase.
2. Terapi Fisik
Sebagian terbesar penderita
Parkinson akan merasa efek baik dari terapi fisik. Pasien akan termotifasi
sehingga terapi ini bisa dilakukan di rumah, dengan diberikan petunjuk atau
latihan contoh diklinik terapi fisik. Program terapi fisik pada Parkinson’s Disease merupakan program
jangka panjang dan jenis terapi disesuaikan dengan perkembangan atau perburukan
penyakit, misalnya perubahan pada rigiditas, tremor dan hambatan lainnya.
Latihan fisik yang teratur, termasuk
yoga, taichi, ataupun tari dapat bermanfaat dalam menjaga dan meningkatkan
mobilitas, fleksibilitas, keseimbangan, dan range of motion. Latihan
dasar selalu dianjurkan, seperti membawa tas, memakai dasi, mengunyah keras,
dan memindahkan makanan di dalam mulut.
4. Operasi
Operasi untuk penderita Parkinson
jarang dilakukan sejak ditemukannya levodopa. Operasi dilakukan pada pasien
dengan Parkinson yang sudah parah di mana terapi dengan obat tidak mencukupi.
Operasi dilakukan thalatotomi dan stimulasi thalamik.20
5. Terapi
neuroprotektif
Terapi neuroprotektif dapat
melindungi neuron dari kematian sel yang diinduksi progresifitas penyakit. Yang
sedang dikembangkan sebagai agen neuroprotektif adalah apoptotic drugs (CEP
1347 and CTCT346), lazaroids, bioenergetics, antiglutamatergic agents, dan
dopamine receptors. Adapun yang sering digunakan di klinik adalah monoamine
oxidase inhibitors (selegiline and rasagiline), dopamine agonis, dan complek I
mitochondrial fortifier coenzyme Q10.16
6. Nutrisi
Beberapa nutrien telah diuji dalam
studi klinik klinik untuk kemudian digunakan secara luas untuk mengobati pasien
Parkinson. Sebagai contoh, L- Tyrosin yang merupakan suatu perkusor L-dopa
mennjukkan efektifitas sekitar 70 % dalam mengurangi gejala penyakit ini.
G.
Prognosis
Obat-obatan yang ada sekarang hanya
menekan gejala-gejala parkinson, sedangkan perjalanan penyakit itu belum bisa
dihentikan sampai saat ini. Sekali terkena parkinson, maka penyakit ini akan
menemani sepanjang hidupnya.
Tanpa perawatan,
gangguan yang terjadi mengalami progress hingga terjadi total disabilitas,
sering disertai dengan ketidakmampuan fungsi otak general, dan dapat
menyebabkan kematian..
Parkinson’s Disease (PD)
sendiri tidak dianggap sebagai penyakit yang fatal, tetapi berkembang sejalan
dengan waktu. Rata-rata harapan hidup pada pasien PD pada umumnya lebih rendah
dibandingkan yang tidak menderita PD. Pada tahap akhir, PD dapat menyebabkan
komplikasi seperti tersedak, pneumoni, dan memburuk yang dapat menyebabkan
kematian.20
Progresifitas
gejala pada PD dapat berlangsung 20 tahun atau lebih. Namun demikian pada
beberapa orang dapat lebih singkat. Tidak ada cara yang tepat untuk
memprediksikan lamanya penyakit ini pada masing-masing individu. Dengan terapi
yang tepat, kebanyakan pasien PD dapat hidup produktif beberapa tahun setelah
diagnosis.
PERAN FISIOTERAPI
Peranan fisioterapi pada penyakit
Parkinson adalah :
-
Mencegah kontraktur oleh karena rigiditas,
dengan gerakan pasif perlahan namun full ROM.
-
Meningkatkan nilai otot secara general dengan
fasilitasi gerak yang dimulai dari sendi proximal, misalnya dengan menggunakan PNF, NDT atau konvensional.
-
Meningkatkan fungsi koordinasi.
-
Meningkatkan transfer dan ambulasi disertai
dengan latihan keseimbangan.
Rehabilitasi
sebaiknya adalah terapi yang ditujukan khusus melatih keterampilan dan
fungsional training. Terapi seharusnya diberikan dengan intensitas yang cukup
untuk mencapai keterampilan yang diperlukan. Teori latihan rehabilitasi utama
diantaranya:
- Terapi Range
of Motion (ROM), penguatan, mobilisasi dan tekhnik kompesatori.
- Neurodevelopmental Treatment (NDT) Bobath-Training
·
Pola otot, tidak mengisolasi
gerakan, digunakan untuk pergerakan.
·
Ketidakmampuan untuk memberikan
impuls langsung pada otot dalam kombinasi yang berbeda oleh orang dengan
susunan saraf pusat yang utuh.
·
Pola otot yang abnormal ditekan
sebelum pola otot yang normal muncul.
·
Reaksi asosiasi: sinergi massa
dihindari karena dapat memperburuk kelemahan otot dan otot yang tidak berserpon
(penguatan yang abnormal akan meningkatkan tonus dan spastisitas)
·
Pola penghambat reflex digunakan untuk mencegah
reaksi postural yang abnormal; juga untuk memfasiliitasi gerakan involunter.
·
Pola yang abnormal dimodifikasi
pada titik kunci proksimal sebagai control (misalnya leher, tulang belakang,
bahu atau pelvis)
- Proprioceptif Neuromuscular Facilitation (PNF)
·
Stimulasi dari saraf, otot,
reseptor sensorik untuk menghasilkan respon melalui rangsangan manual untuk
meningkatkan kemudahan pergerakan dan meningkatkan fungsi otot.
·
Mekanise neuromuskular yang
normal memberi kemampuan untuk melakukan aktifitas motorik yang luas dengan struktur
anatomis yang terbatas. Hal ini terintegrasi dan efisien tanpa mempengaruhi aksi motorik,
aktifitas reflex dan reaksi lainnya.
·
Mekanisme neuromuskular yang
tidak lengkap tidak cukup memenuhi untuk hidup sehari-hari karena kelemahan,
ikoordinasi, spasme otot atau spastisitas.
·
Keperluan khusus diberikan oleh
terapis fisik dan terapis okupasional memfasilitasi efek dari mekanisme
neuromuskular dan mengembalikan keterbatasan pasien.
·
Pola pergerakan-massa digunakan
sesuai dengan aksioma Beevor (bahwa otak tidak tahu tentang aksi dari otok
tertentu tapi tahu tentang pergerakannya)
- Brunnstrom: Fasilitasi sentral menggunakan pemulihan
Twitchell dimana meningkatkan sinergi tertentu melalui stimulus
proprioseptif pada kulit.
Dengan menambahkan breating
retraining (BRT) dan inspiratory
mucle training (IMT) pada program
rehabilitasi pasien Parkinson’s
Disease menghasilkan perbaikan fungsi otot pernafasan, kapasitas latihan,
dan kualitas hidup menurut Sutbeyaz dkk. Pada studi ini pasien diberikan BRT dan IMT selama
setengah jam sehari, 6 kali seminggu.
Terapi Sinar Infra
Red
A. Efek Fisiologis
Pengaruh
sinar infra red jika sinar infra red
diabsorbsi oleh kulit, maka panas akan timbul pada tempat sinar tadi
diabsorbsi. Dengan adanya panas ini temperature naik dan pengaruh-pengaruh lain
akan terjadi antara lain adalah:
ü Meningkatkan proses metabolisme
ü Vasodilatasi pembuluh darah
ü Pigmentasi
ü Pengaruh terhadap jaringan otot
ü Menaikkan temperatur tubuh
ü Mengaktifkan kerja kelenjar keringat
B. Efek Terapeutik
ü Relaksasi otot
ü Meningkatkan suplai darah
Kebanyakan pasien yang mengalami kelainan neurologis seperti pada Parkinson’s
Disease sangat tergantung kepada orang lain untuk
melakukan ADL dasar (seperti mandi, berpakaian, makan, ke toilet,
bersih-bersih, berpindah tempat). Kemampuan individu untuk melakukan aktivitas
ini biasanya dinilai dengan disability
rating scale seperti Fungsional
Independence Measure. Hampir semua pasien menunjukan peningkatan ADL ketika
pemulihan terjadi. Faktor yang memprediksi ADL outcome
yang jelek adalah :
Ø Usia tua
Ø Adanya komorbiditas
Ø Myocardial infarction
Ø Diabetes mellitus
Ø Parkinson’s Disease yang berat
Ø Kelemahan yang berat
Ø Skor awal ADL yang rendah
Ø Penundaan dalam memulai rehabilitasi sejak onset
Latihan Keseimbangan dan Koordinasi
1. Latihan
keseimbangan
1)
Posisi duduk
Pasien duduk di tempat tidur, terapis di belakang pasien
dengan memegang salah satu tangan pasien dan tangan yang lain memfiksasi pada
bahu yang kontralateral. Lalu terapis menarik tangan pasien secara perlahan ke
arah samping secara perlahan dan pasien di minta untuk mempertahankan keseimbangan
agar tidak jatuh ke samping. Setelah itu dilakukan pada tangan yang lain dengan
prosedur yang sama.
2)
Posisi berdiri
Pasien berdiri dengan tumpuan 10 cm, terapis
memfiksasi pada pevis pasien, lalu terapis menggerakkan ke depan, belakang, samping
kanan dan samping kiri dan pasien diminta agar menjaga keseimbangan agar tidak
jatuh.
2. Latihan
koordinasi
Dilakukan pada posisi berdiri maupun duduk
untuk gerak jari ke hidung, jari pasien ke jari terapis, jari ke jari tangan
pasien, gerak oposisi jari tangan dan gerakan lain yang ada pada pemeriksaan
koordinasi non-ekuilibrium.
Pasien duduk atau berdiri dengan kedua lengan ke depan (fleksi sendi bahu 90ᵒ)
sehingga ke dua jari telunjuk pasien dan terapis saling bersentuhan, lalu
pasien di minta mempertahankannya setelah itu pasien di minta mengikuti gerakan
tangan terapis, usahakan jari telunjuk masih saling bersentuhan selama
pergerakan tangan terapis.
2.1. Frenkel’s exercise
Merupakan suatu bentuk
latihan gerak untuk perbaikan koordinasi dengan menggunakan indra yang lain
(visual, pendengaran, reseptor). Program ini terdiri seri latihan yang sudah
terencana yang didesain untuk membantu mengkompensasi ketidak mampuan dari
lengan dan tungkai untuk melakukan gerakan yang terkoordinasi, yaitu ketidak
mampuan untuk meletakkan posisi dan mengatakan dimana posisi lengan dan tungkai
jika bergerak tanpa pasien melihat gerakan.
Edukasi dan Home Program
Edukasi dan home program prinsipnya adalah tindakan yang dapat dilakukan oleh keluarga dan penderita untuk menunjang pemulihan
kemampuan gerak dan fungsi. Dengan melakukan program rumah ini akan sangat membantu
proses perkembangan motorik. Namun
demikian, program latihan di rumah hendaknya dilakukan dengan benar agar proses
pembelajaran motorik yang diberikan oleh fisioterapis tidak berlawanan dengan yang dilakukan di rumah.
a. Mengatur Posisi di
Tempat Tidur
Umumnya penderita Parkinson’s
Disease akan
mengalami imobilisasi atau kurang gerak karena menurunnya kemampuan fungsional.
Dengan kondisi tersebut, makan beberapa komplikasi mungkin terjadi seperti
pembentukan bekuan darah, dekubitus, pneumonia, kontraktur otot, keterbatasan sendi, dan lain lain.
b. Pijatan pada Lengan
Pijatan yang diberikan pada penderita Parkinson’s Disease bertujuan untuk meningkatkan
sirkulasi darah local pada area yang diberikan pijatan. Pada area lengan maka
arah pijatan dari distal ke area proksimal.
c. Latihan Mandiri (self exercise)
Pada dasarnya penderita Parkinson’s
Disease juga
dapat melakukan latihan mandiri, hal ini ditujukan untuk membantu proses
pembelajaran motorik. Setiap gerakan yang dilakukan hendaknya secara perlahan dan berkelanjutan dan anggota gerak yang mengalami gangguan ikut aktif melakukan gerakan
seoptimal mungkin.
d. Latihan Fungsional
Tangan
Salah
satu ciri khas dari Parkinson’s Disease
adalah tangan tremor jika sedang
beristirahat. Namun, jika orang itu diminta melakukan sesuatu, getaran tersebut
tidak terlihat lagi. Itu yang disebut resting tremor, yang hilang juga
sewaktu tidur. Fungsi tangan begitu penting
dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan merupakan bagian yang paling aktif.
Latihan fungsional
tangan dapat berupa:
- Membuka tangan.
- Menutup jari-jari untuk
menggenggam objek.
- Menggeser engsel kunci
pintu atau lemari.
- Membuka menutup
kran air
- Membuka dan
mengancingkan baju, dll
e. Latihan pada Wajah dan Mulut
Salah satu mesalah yang sering muncul pada penderita Parkinson’s Disease adalah menurunnya kemampuan
bicara dan ekspresi wajah. Latihan pada wajah dan mulut antara lain, latihan
tersenyum, memembentuk bibir menjadi huruf “O” dan lain lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar